“Beyond The Corn Flakes”

Posted: August 24, 2013 in Uncategorized

1358766980_nestle_20121231_042

Orang-orang yang saya cintai (Bapak, Mama dan adik) berada jauh di pulau seberang sana. Di kota pelajar ini, saya hanya punya Pakdhe, Budhe dan kakak-kakak sepupu. Kebetulan tepat 30 Juni 2013 kemarin paman saya dipanggil Sang Empunya kehidupan. Jadi, lebaran kali ini lumayan berat untuk dijalani karena tepat tanggal 8 Agustus lalu kami memperingati 40 hari meninggalnya orang yang kami cintai.

Sekalipun keluarga Bapak saya bukan muslim, tapi adat-istiadat dan budaya silaturahmi di hari yang Fitri begitu kental dan mendarah daging. Biasanya, kami berkunjung ke rumah saudara yang kami tuakan untuk mengucapkan salam, silaturahmi dan meminta maaf untuk tiap perkataan dan perbuatan yang tidak menyenangkan hati/menyakiti  selama satu tahun yang telah kami lewati. Begitu pula sebaliknya, mereka warga setempat (baik muslim maupun non-muslim) juga berkunjung untuk menyampaikan silaturahmi dengan bahasa Jawa Krama. Suatu budaya yang patut dipertahankan dari satu generasi ke generasi. Di kota besar, budaya ini dikenal dengan sebutan Open House.

Jika setiap tahun kami selalu menjalani Hari Raya penuh dengan kemenangan dan suka cita, kali ini sedikit berbeda. Ucapan-ucapan “Sugeng Riyadi” (artinya “Selamat Idul Fitri”) dan kata-kata “nyumun ngapuro” (artinya “mohon maaf”) dari tetangga maupun kerabat yang berkunjung ditambahi embel-embel “turut berduka cita”. Tak heran jika akhirnya mampu membuat Pakde dan Budheku gagal membendung airmata.

Menjawab pertanyaan “Bagaimana cara Anda membagi kebahagiaan dengan orang yang Anda cintai di Hari Raya?” Saya banyak menghabiskan waktu dengan mereka. Saya bersama kakak-kakak sepupu membantu Pakdhe dan Budhe mempersiapkan peringatan 40 hari paman. Saya dan kakak sepupu juga yang mengolah makanan, memotong bebek dan meracik bumbu untuk hari yang Fitri. Sebisa mungkin saya menghibur dan menyenangkan hati mereka yang masih sedih dan merasa kehilangan sosok paman. Ada hal lucu yang terjadi waktu itu dan masih membekas di benak kami hingga saat ini. Jika kebanyakan orang  biasanya menyuguhkan sirup kepada tamu dengan membeli sirup jadi seperti sirup ABC dan Marjan, kali ini kami membuat sirup sendiri berbahan dasar gula, air, citrun dan pasta. Saat itu kami membuat sirup rasa melon dan leci. Ketika itu, rasa leci kami suguhkan terlebih dulu. Setiap tamu yang berkunjung ke rumah selalu kami buat takjub dan kaget ketika meminum air yang kami suguhkan karena air yang mereka minum itu bening tak berwana bak air putih, tapi mengandung rasa leci. Semua orang memintar resep bahan dan cara membuatnya. Banyak pula tamu yang tertawa oleh karya kami ini. Tak heran jika sirup buatan tangan kami ini mampu memecah keheningan, kesedihan dan suasana kikuk sepeninggalnya paman. Sirup bening tanpa pengawet dan pemanis buatan ini pula yang semakin menyatukan dan mengakrabkan suasana Hari Raya Idul Fitri kala itu. Begitulah cara saya berbagi kebahagiaan dengan orang yang saya cintai. Melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar.

^_^ saya selalu damai dan bahagia bisa berbagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s