Menyambut akhir tahun 2012, banyak pelaksanaan pembangunan di kota Gudeg, Yogyakarta. Mulai bangunan-bangunan fasilitas pendidikan di universitas sepanjang jalan Affandi, ruko-ruko di sepanjang jalan Deresan, kompleks perumahan sekitar Jogyakarta International Hospital (JIH), proyek perpustakaan umum di samping Jogya Expo Center (JEC), hingga proyek jembatan layang (flyover) ringroad utara Yogyakarta. Masyarakat yang tinggal di sekitar areal tersebut dan para pengguna jalan pun selalu disuguhi suara berisik besi yang saling bersentuhan, kontraktor-kontraktor yang mengangkat alat-alat berat, serta mesin aduk semen otomatis yang mengaduk campuran material pasir, semen dan air. Semua jadi pemandangan sehari-hari yang mewarnai kawasan tersebut.

Pernah suatu hari ketika saya hendak menuju terminal Jombor menggunakan fasilitas kendaraan umum Trans Yogya, bus berhenti karena kemacetan yang menyebabkan antrian panjang. Saat itu saya disuguhi pemandangan pekerja proyek jembatan layang (flyover) yang harus memanjat besi-besi cor tinggi tanpa helm dan tali pengaman. Mereka naik turun hanya berpegang pada besi tipis yang keluar dari cor-coran yang tersisa, berusaha menggapai pegangan tuk menjaga keseimbangan sembari mengencangkan mur-mur di tiap ujung-ujung besi. Sungguh pekerjaan yang membahayakan. Apa yang saya lihat tak jauh berbeda dengan pekerja Office Boy di perpustakan universitas saya tiap kali membersihkan kaca-kaca bangunan hanya dengan menggunakan rangkaian besi buka pasang layaknya pertunjukan akrobatik. Perbedaannya hanya pada roman wajah pekerja Office Boy yang lebih terjaga dan terawat daripada pekerja-pekerja proyek jembatan layang yang berteman debu jalanan.

Situasi dan kondisi kerja di atas merupakan salah satu contoh dari sekian banyak situasi dan kondisi yang mengancam jiwa tenaga kerja. Hal ini mungkin dianggap sepele oleh sebagian pengusaha ataupun pekerja. Hanya akan membuang-buang biaya dan memperlambat pekerjaan. Namun, jika dilihat secara lebih mendalam hal ini tak dapat diremehkan. Bayangkan dan perhitungkan baik-baik berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk insiden kecelakaan kerja daripada upaya pencegahan kecelakaan.

Hal mengenai kesehatan dan keselamatan kerja sudah diatur dan dilindungi jauh-jauh hari sebelumnya oleh dasar hukum Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Kesehatan & Keselamatan Kerja. Undang-Undang ini mengatur kesehatan dan keselamatan kerja dalam segala tempat kerja, baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air maupun di udara, yang berada dalam wilayah kekuasaan hukum Indonesia. Namun sayang, kesadaran akan hal ini masih tipis. Mindset positif pengusaha dan pekerja masih rendah. Masih banyak stigma-stigma yang perlu diubah. Untuk itu, Departemen Tenaga Kerja wajib menginformasikan hal ini lebih jauh. Salah satu upaya pemberdayaan informasi ini dengan pengadaan seminar, himbauan ataupun pelatihan sehingga pengusaha dan pekerja tahu betul bahwa regulasi keselamatan dan kesehatan kerja perlu diperhitungkan dan diperhatikan mengingat keselamatan dan kesehatan kerja juga berperan penting dalam meningkatkan produksi dan produktivitas.

Ruang lingkup kesehatan dan keselamatan kerja juga harus diperhatikan dan diperhitungkan secara rinci. Unsur keamanan kerja yang meliputi unsur-unsur penunjang yang mendukung terciptanya suasana kerja yang aman, baik berupa materil (seperti sarung tangan, kaca mata, sepatu, helm, baju kerja) maupun nonmaterial (seperti himbauan dan rambu-rambu isyarat bahaya); unsur Hazard (potensi biaya), Risk (resiko), Incident (nyaris celaka) dan Accident (kecelakaan kerja); unsur kesehatan kerja yang meliputi kondisi kesehatan pekerja, baik jasmani, rohani, maupun sosial, dengan usaha pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit atau gangguan kesehatan yang disebabkan oleh pekerjaan dan lingkungan kerja; hingga unsur keselamatan kerja yang meliputi keadaan dimana pekerja terhindar dari bahaya selama melakukan pekerjaan sudah pantas dan selayaknya memerlukan dan mendapatkan perhatian khusus.

Selanjutnya, pengusaha dan pekerja diharapkan dapat bekerjasama menjalin komunikasi yang baik dimana simbiosis mutualisme dapat berjalan lancar; kesehatan dan keselamatan kerja pekerja serta karyawan tercapai, tujuan pembangunan fisik dan bisnis kerja pengusaha juga tercapai. Baik dengan meningkatkan kehati-hatian dengan menggunakan alat-alat penunjang keselamatan sesuai prosedur yang berlaku maupun teliti serta disiplin dalam mengkaji sarana dan prasarana penunjang kesehatan dan keselamatan kerja karyawan. Hal-hal kecil seperti antisipasi bahaya kebakaran, tersengat aliran listrik, pengadaan kualitas cahaya, hygiene dan sanitasi bagi karyawan juga wajib diusahakan semaksimal mungkin.

Jika budaya dan kesadaran akan kesehatan dan keselamatan kerja ini meningkat dari waktu ke waktu, niscaya zero accident dalam K3 pasti tercapai. Dengan pencapaian tersebut, rusak dan hancurnya infrastruktur sebelum batas jatuh tempo ketahanan dan perbaikan seperti Golden Gate di Kalimantan Timur tak akan terulang lagi. Stabilitas kerja masyarakat akan terjaga. Berita-berita kecelakaan kerja yang menewaskan banyak jiwa serta menyebabkan hilangnya kepala rumah tangga yang mengakibatkan bertambahnya jumlah anak yatim pun tak akan terdengar. Tak akan santer terdengar berita tindak-tindak kriminal yang disebabkan kesulitan ekonomi karena ditinggalkan kedua orangtua dalam kecelakaan kerja. Tak akan lagi terdengar berita pencobaan pembunuhan karena tekanan kerja. Hal ini mungkin tak terdengar baik bagi para konsultan, psikolog, dokter dan ahli medis lainnya, tapi begitu baik untuk kesejahteraan bersama. Di samping itu, alokasi dana kecelakaan kerja hanya akan masuk dalam pengeluaran biaya pencegahan saja yang tentunya lebih kecil nilainya daripada anggaran dana kecelakaan kerja. Dalam hal ini, prinsip ekonomis kerja pun tercapai.

Rumusan UUD 1945 yang disusun sedemikian rupa oleh para pahlawan bangsa puluhan tahun lalu yang menyatakan bahwa tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan, yang menjadi dasar hukum UU No. 1 tahun 1970 pun tak sekedar carikan kertas belaka. Tak berhenti sampai di situ saja, UU No. 14 tahun 1969 yang menyebutkan bahwa tenaga kerja merupakan modal utama serta pelaksana dari pembangunan pun tercapai karena meningkatkan produksi dan produktivitas. Bisa bayangkan apa yang akan negeri ini perbuat jika produksi dan produktivitas meningkat? Mungkin negara ini tak lagi menyandang nama “negara yang sedang berkembang”. Etos kerja SDM juga akan meningkatkan produksi yang akan memberikan peran tersendiri dalam kompetisi pasar global.

Perhatian kecil yang membawa dampak positif yang begitu besar demi tercapainya pembangunan bumi pertiwi merupakan salah satu cara untuk memberi sumbangsih dan pemulihan bagi negeri ini. Uang tak semata-mata bisa membayar kehidupan dan masa depan bangsa, negeri ini butuh hati yang peduli dan sadar untuk melakukan perbuatan dan perubahan besar. Meningkatkan kesadaran akan budaya K3 serta menghimbau pentingnya K3 juga mengajarkan pentingnya kemanusiaan, sebuah titik bagaimana seorang anak manusia memanusiakan manusia. Bagi mereka para praktisi, pemegang saham dan pribadi-pribadi yang memegang pengaruh besar, diharapkan bijaksana dalam memutuskan suatu kebijakan, berani bertanggungjawab tuk setiap kebijakan yang telah dicetus dan dibuat sedemikian rupa sehingga menjadi manusia yang berhati mulia dan berbudaya untuk menuju masyarakat industri yang selamat, sehat dan produktif.

logo-k3           poster_k3

________dari wichan untuk Safety Comp 2013 Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya________

Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s