Kontribusi Pabrik Gula Bagi Ekonomi Daerah

Posted: May 22, 2013 in Uncategorized
Tags: , , , , , , ,

Siapa yang tidak kenal dengan gula? Semua orang pasti tahu dan pernah menjumpainya. Bahan baku permen, gulali, serta beberapa produk industri ini begitu lekat dengan masyarakat Indonesia terlebih masyarakat Yogyakarta yang dikenal dengan ciri khas makanan manisnya; gudeg. Ibu-ibu rumah tangga, restoran-restoran dan home industry juga tak bisa dipisahkan dari bahan baku satu ini. Gula sudah menjadi kebutuhan pokok konsumen pasar dari masa ke masa.

Ada beberapa tanaman yang dapat menghasilkan gula yakni tanaman tebu (Saccharum officinarum L.), kelapa (Cocos nucifera), jagung (Zea mays)  dan enau/aren (Arenga pinnata). Namun, seiring berkembangnya zaman dan permintaan pasar, gula yang berasal dari nira tebu lebih dibudidayakan daripada nira pohon aren.

Gula sebagai sukrosa (salah satu jenis karbohidrat disakarida) mengalami proses produksi yang cukup panjang sebelum menjadi gula kristal putih seperti yang kita konsumsi sehari-hari. Proses defekasi-sulfitasi yang meliputi tahap penggilingan, pemurnian, penguapan, pemasakan, puteran dan penyelesaian dengan dilengkapi mesin-mesin berteknologi khusus mengekstrak tebu agar layak dan siap dikonsumsi masyarakat umum. Proses produksi ini berlangsung di 61 pabrik gula yang tersebar di Indonesia, seperti PG Cepiring di Kabupaten Kendal, PG.Watoetoelis di Surabaya, PG Madukismo di Yogyakarta, PG Lestari di Kabupaten Nganjuk, PG Pangka di Tegal, PG. Takalar di Sulawesi Selatan dan PG-PG yang didirikan oleh PT Gunung Madu Plantations dan PT Sugar Group Companies di Lampung. Pabrik-pabrik tersebut sebagian besar berada di bawah pengelolaan PT Perkebunan Nusantara X dan BUMN, sisanya dikelola oleh perusahaan swasta.

Sejarah pabrik gula itu sendiri merupakan peninggalan penjajahan Belanda. Dahulu, produksi tebu menjadi pemasukan besar negara Belanda, lalu kemudian beralih fungsi sebagai penyimpanan senjata melawan sekutu Perang Dunia II ketika Indonesia jatuh ke tangan Jepang. Setelah Jepang menyerah kalah dalam perang melawan tentara sekutu, pabrik tersebut dinasionalisasi oleh pemerintah Indonesia hingga sekarang. Salah satu pabrik gula yang didirikan oleh pemerintahan Belanda dan masih berdiri sampai sekarang adalah PG Krebet di Malang.

Banyaknya pabrik gula yang tersebar di seluruh nusantara ini memberikan peran tersendiri bagi masyarakat dan pemerintah. Pabrik gula dengan siklus tahunan yang berkelanjutan selalu membutuhkan pekerja pada masa tanam, pemeliharaan dan panen. Pada musim giling pun dibutuhkan jasa angkutan. Diluar masa giling, sejumlah pabrik juga membutuhkan sejumlah tenaga ahli maintenance mesin-mesin giling yang sedang tidak beroperasi. Penyerapan tenaga kerja ini secara tidak langsung meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar areal tersebut. Tidak hanya itu, situasi dan kondisi berkesinambungan ini juga memberikan kontribusi tersendiri bagi para pedagang-pedagang kecil yang memanfaatkan kesempatan menyediakan makanan dan minuman bagi para buruh dan pekerja pabrik. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa peran pabrik gula sebagai penyangga kehidupan ekonomi masyarakat lokal sangatlah dominan.

Peran pabrik gula juga memberdayakan masyarakat. Para petani gula juga mendapatkan sumber modal dan pelatihan-pelatihan dalam Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) yang menjadi program PT Perkebunan Nusantara X dalam meningkatkan kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat. Petani-petani gula yang terdapat di daerah tertentu atau beberapa daerah dikumpulkan untuk mendapatkan pelatihan bagaimana teknis budidaya tanaman tebu untuk menghasilkan bibit unggul dengan kualitas terbaik. Kegiatan ini menjadi bonus tersendiri bagi petani gula, karena selain menyewakan lahan pertanian, mereka juga mendapatkan informasi dan pengetahuan gratis tentang kemajuan teknogi pertanian. Hal ini diharapkan dapat mendongkrak produksi tebu nasional yang masih rendah dalam memenuhi kebutuhan konsumen pasar.

Tak berhenti cukup sampai di sini, limbah hasil ekstraksi tanaman tebu yang menghasilkan ampas dan blotong (endapan dari nira kotor pada proses pemurnian nira yang disaring) pun dapat dimanfaatkan. Ampas tebu biasanya diolah sedemikian rupa sebagai bahan baku kertas dan bahan bakar ketel uap sedangkan blotong dijadikan biobriket, pakan ternak serta pupuk. Ampas pun bisa bernilai ekonomis bagi warga yang mau dan mampu memanfaatkannya.

Selain peran-peran di atas, pabrik gula diharapkan mampu menjalin silaturahmi dengan para pekerja dan masyarakat setempat. Bukan hanya untuk perpanjangan kontrak kerja dan lahan kerja tapi juga diharapkan dapat menciptakan suatu “Branded”. Desa atau daerah yang mampu menciptakan sebuah “Branded”, katakanlah “Cane Branded”, “desa gula” atau “cane island” akan menimbulkan kecintaan diri dan rasa bangga pada daerahnya sendiri yang kemudian akan tersebar luas ke seluruh penjuru negeri. Kondisi ini dapat menciptakan ketertarikan bagi para kaum wisatawan, baik domestik maupun mancanegara yang ingin tahu lebih dalam proses pembuatan gula atau sejarah pabrik gula. Perkembangan ini kemudian dapat dimanfaatkan masyarakat untuk meningkatkan objek pariwisata daerah. Kesempatan perusahaan untuk mendapat investor pun terbuka dengan sendirinya.

Dengan menjadikan masyarakat lokal sebagai masyarakat mandiri dan produktif, pabrik gula juga ikut berperan serta dalam meningkatkan perekonomian daerah dalam bentuk pembayaran pajak dan retribusi yang tentunya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Selanjutnya, PT Perkebunan Nusantara X dan BUMN sebagai pengelola juga membantu pendapatan negara dalam bentuk dividen. Tingginya dividen yang dibayar kepada negara nantinya akan meningkatkan pendapatan dan kas negara yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk pembangunan.

Menyadari dan memahami kinerja peran sektor industri gula yang memberikan dampak positif dan sumbangsih yang cukup besar bagi masyarakat, pemerintah dan negara untuk jangka waktu yang relatif panjang menjadikan industri ini patut dan layak mendapatkan perhatian besar. Pemerintah bersama masyarakat diharapkan dapat saling bekerjasama. Kas negara diharapkan dapat memberikan sedikit ruang dan anggaran revitalisasi pabrik-pabrik gula. Renovasi dan fasilitas pabrik yang uzur sudah selayaknya mendapatkan perhatian. Hal ini bukan semata-mata untuk kepentingan pabrik dan kesejahteraan masyarakat, tapi lebih-lebih untuk mendongkrak produksi gula lokal yang semakin hari semakin terjajah dan terdominasi gula impor. Dengan meningkatnya produksi gula lokal, negeri ini tak lagi harus mengimpor gula dari negara lain seperti Thailand, Brasil dan Australia. Anggaran pembelian gula impor demi memenuhi kebutuhan gula lokal bisa dialihfungsikan untuk kebutuhan-kebutuhan negara yang lain. Mungkin dialokasikan pada anggaran pendidikan dan beasiswa yang nantinya dapat melahirkan ilmuan dan tenaga ahli di bidang teknologi industri; sebuah teknologi yang mampu menekan kehilangan gula (sukrosa) seminimal mungkin dalam proses pengolahan tebu sehingga menghasilkan gula yang berkualitas dan dapat diterima negara luar. Dengan demikian, mimpi bangsa ini untuk memberikan kontribusi bagi dunia pun tak hanya khayalan dan angan belaka. Pemerintah dan masyarakat daerah industri gula tersebut pun tentunya akan bangga, anak daerah dapat ambil andil dalam memajukan dan membangun negeri.

   Sugarcane

________dari wichan untuk PTPNX di bumi pertiwi__________

Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s